Dokumen Transaksi
Memproses Dokumen Transaksi
Pengelolaan Dokumen Transaksi
a. Pengertian
Dokumen Transaksi
Transaksi adalah situasi
atau kejadian yang melibatkan unsur lingkungan dan mempengaruhi posisi
keuangan. Setiap transaksi harus dibuatkan keterangan tertulis seperti faktur
atau nota penjualan atau kwitansi dan disebut dengan Bukti Transaksi.
Hal
yang sangat subtansional dalam siklus akuntansi ialah transaksi karena ia
merupakan pondasi dalam penyusunan laporan akuntansi. Transaksi keuangan
dalam bahasa global, ialah segenap realitas yang menjadi pondasi dalam prosesi
aktivitas mata rantai keuangan berorientasi efektivitas yang kualitas.
Sedangkan dokumen transaksi merupakan lembaran yang mendukung bahwa telah terjadinya
suatu transaksi.
b.
Macam-Macam Bukti Pencatatan
1.
Bukti Transaksi Intern
Bukti
transaksi intern adalah bukti transaksi yang khusus di buat oleh intern dan
dibuat untuk intern perusahaan. Yang termasuk bukti intern sebagai berikut:
a.
Bukti Kas Masuk
Bukti
kas masuk adalah tanda bukti bahwa perusahaan telah menerima uang secara cash
atau secara tunai.
b.
Bukti Kas Keluar
Bukti
kas keluar adalah tanda bukti bahwa perusahaan telah mengeluarkan uang tunai,
seperti pembelian dengan tunai atau pembayaran gaji, pembayaran utang atau
pengeluaran-pengeluaran yang lainnya.
contoh:
Memo
adalah bukti pencatatan antar bagian atau manager dengan bagian-bagian yang ada
di lingkungan perusahaan
2.
Bukti Transaksi Ekstern
Bukti
ekstern adalah bukti pencatatan transaksi yang berhubungan dengan pihak di luar
perusahaan. Misalnya, bukti pengeluaran kas, faktur pembelian / penjualan dan
pembayaran upah
Berikut
contoh bukti ekstern.
a. Faktur
Adalah
bukti pembelian atau penjualan barang secara kredit yang dibuat oleh pihak
penjual dan diberikan kepada pihak pembeli.
b. Kwitansi
Adalah
bukti penerimaan sejumlah uang yang ditandatangani oleh penerima uang dan
diserahkan kepada yang membayar sejumlah uang tersebut.

c. Nota Kontan
Nota
kontan adalah bukti atas pembelian sejumlah barang secara tunai. Nota dibuat
oleh pedagang dan diberikan kepada pembeli. Biasanya nota dibuat rangkap dua,
satu lembar untuk pembeli dan lembaran kedua untuk penjual
d. Nota Kredit
Nota
kredit adalah bukti bahwa perusahaan telah mengkredit perkiraan langganannya
yang disebabkan oleh berbagai hal. Nota kredit dikirimkan oleh perusahaan
kepada langganannya sehubungan barang yang dijual tidak cocok atau rusak, untuk
itu penjual setuju menerima barangnya.

e. Cek
Cek
Adalah surat perintah kepada bank sebesar jumlah yang tercantum dalam cek
tersebut kepada seseorang atau orang yang membawa cek tersebut. Cek dibuat oleh
pihak yang mempunyai simpanan di bank dan pengeluaran cek ditujukan kepada
orang yang dikehendakinya.
Transaksi
pembelian ditujukan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan dalam penjualan.
Transaksi pembelian barang dapat dilakukan dengan 2 cara pembayaran yaitu:
pembelian tunai dan pembelian kredit. Bukti transaksi yang diperlukan untuk
pembelian tunai maupun kredit hampir sama perbedaannya hanya pada pembelian
tunai pembeli menerima
bukti
transaksi dari penjual
yaitu nota kontan dan kuitansi sedangkan pada pembelian kredit pembeli hanya
menerima faktur saja dari pihak penjual. Administrasi lain yang diperlukan
selain itu antara lain bukti permintaan, surat pesanan, penerimaan barang dan
kartu persediaan.
f.
Bukti memorial
Butki memorial merupakan bukti transaksi intern
dalam bentuk memo dari pejabat dalam perusahaan kepada bagian akuntansi, untuk
mecatat suatu peristiwa atau keadaan yang bersifat intern.
C. CIRI-CIRI
DARI JENIS BUKTI TRANSAKSI
1. Ciri-ciri Kuitansi :
a) Kuitansi
dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian
sebelah kiri disebut sub kuitansi ( sebagai bukti bagi si penerima uang ),
sedangan yang sebelah kanan diberikan kepada si pembayar uang
b) Kuitansi
dibuat rangkap, bagian atas ( yang asli ) diberikan kepada si pembayar uang dan
salinan sebagai arsip bagi si penerima uang.
c) Informasi
yang termuat dalam kuitansi antara lain :
·
Nama yang
menyerahkan uang
·
Jumlah uang
yang dibayarkan
·
Tanggal
penyerahan uang
·
Nama dan
tanda tangan yang menerima uang
2. Ciri-ciri cek
Terdiri atas lembar utama dan struk atau bonggol
cek.lembar utama untuk diserahkan kepada pihak lain sebagai alat
pembayaran,sementara struk cek yang telah diisi dengan data yang sama dengan
yang ada pada lembar utama digunakan sebagai bukti tambahan yang disatukan
dengan kuitansi bukti pembayaran.
3. Bilyet Giro
Ciri-ciri
bilyet giro sama dengan cek,yang membedakan adalah perintah didalamnya.
4. Ciri-ciri Faktur :
- Biasanya dibuat rangkap 2, yang asli diberikan kepada pihak pembeli sebgai bukti pencatatan pembelian secara kredit sedangkan kopiannya dipegang oleh pihak penjual sebagai bukti pencatatan penjualan secara kredit.
- Informasi yang harus dimuat dalam faktur antara lain :
·
Nama dan
alamat penjual
·
Nomor faktur
·
Nama dan
alamat pembeli
·
Tanggal
pemesanan
·
Tanggal
pengiriman
·
Syarat
pembayaran dan keterangan mengenai barang seperti jenis barang, kuantitas,
harga satuan, dan jumlah harga.
5. Ciri –ciri Nota kontan
·
Digunakan dalam transaksi penjualan tunai
·
Terdiri dari 2 lembar nota.
·
Digunakan juga dalam pembelian tunai
6.
Ciri-ciri Nota
kredit/Debet
Nota kredit
·
Digunakan dalam transaksi penjualan kredit(nota kredit)
·
Terdiri dari 2 lembar nota
·
Digunakan dalam pembeliaan kredit(nota debet)
·
Terdapat tanda tangan bagian-bagian yang bersangkuta
·
Terdapat nama dan alamat toko
·
Terdapat nomor dan tanggal
7.
Bukti Memorial :
·
Digunakan dalam transaksi intern perusahaan
·
Terdapat tanda tangan bagian-bagian yang bersangkutan
·
Terdapat nama dan alamat toko
·
Terdapat nomor dan tanggal
D.
MENGANALISA BUKTI TRANSAKSI KEUANGAN
Transaksi yang terjadi dalam
perusahaan selama satu periode tertentu, terdiri atas bermacam-macam transaksi,
misalnya transaksi pembelian, transaksi penjualan, penerimaan tagihan
pembayaran hutang dan lainnya. Setiap jenis transaksi terjadi berulang-ulang,
sehingga tidak praktis jika semua transaksi yang terjadi selama satu periode di
catat dalam bentuk perubahan pada persamaan dasar akuntansi untuk memudahkan
perbuatan ikhtisar transaksi yang terjadi dalam satu periode dan penyusunan
laporan keuangan, transaksi-transaksi yang sejenis atau yang mengakibatkan
perubahan pada pos yang sama dikelompokkan dan dicatat dalam satu daftar khusus
yang disebut “akun” (account), bias juga disebut “pekerjaan” atau “rekening”,
misal akun kas, piutang, hutang, perlengkapan, peralatan dan lain-lain. Jadi
akun adalah daftar tempat mencatat secara sistematis transaksi-transaksi
finansial yang mengakibatkan perubahan pada aktiva, hutang, modal, penghasilan
dan beban.
Setiap transaksi yang terjadi dalam
perusahaan mengakibatkan perubahan sekurang-kurangnya pada dua
akun.Perubahannya berupa penambahan atau pengurangan jumlah pada akun yang
terkait.Oleh karena itu setiap transaksi dicatat sekurang-kurangnya pada dua
akun, yaitu dengan mendebet suatu akun dan mengkredit yang lainnya. Agar dapat
mencatat suatu transaksi dengan benar, kita harus memiliki kemampuan :
1.
Menganalisa
bukti transaksi. Selain untuk menentukan kebenaran dan keabsahan bukti
transaksi, juga untuk menentukan akun yang tepat sebagai tempat mencatat
transaksi yang bersangkutan.
2.
Mendebet
atau mengkredit suatu akun dengan benar, dalam artian dengan pengaruh yang mana
(penambahan atau pengurangan) suatu akun harus didebet atau dikredit.
Sifat suatu akun pada dasarnya
berhubungan erat dengan posisi (tempat) akun itu dalam neraca. Akun-akun yang
termasuk kelompok harta berada di sisi debet neraca, oleh karena itu penambahan
nilai atau jumlah pada salah satu jenis harta, juga harus dicatat di sisi debet
akun harta yeng bersangkutan. Jika penambahan nilai terhadap suatu jenis harta
dicatat di sisi debet, tentu pengurangan nilai terhadap harta itu harus dicatat
di sisi kredit. Dalam hal ini berlaku pengertian jumlah kredit sebagai
pengurangan jumlah debet.
Contoh :
Perusahaan membeli perlengkapan
kantor secara tunai seharga Rp 300.000,-. Akibat transaksi ini terjadi
penambahan nilai pada perlengkapan kantor dan pengurangan nilai kas. Baik
perlengkapan kantor maupun kas termasuk kelompok akun harta. Oleh karena itu,
transaksi tersebutharus dicatat pada akun “perlengkapan kantor” di sisi debet,
dan akun “kas” di sisi kredit. Catatan dalam buku besar akan tampak sebagai
berikut :
“Perlengkapan
Kantor”
Rp 300.000,-
“Kas”
Rp 300.000,-
Penjelasan mengenai
akun kelompok harta di atas, berlaku pula untuk akun-akun kelompok hutang dan
modal, tetapi pada posisi yang berlawanan.Akun-akun kelompok dan modal berada
di sisi kredit neraca, dengan demikian penambahan nilai pada hutang atau modal
harus juga dicatat di sisi kredti pada akun hutang atau modal. Sebaliknya
pengurangan nilai pada hutang atau modal tentu harus dicatat di sisi debet pada
akun hutang atau modal yang bersangkutan.
Contoh :
05 Juli Perusahaan membeli peralatan kantor seharga Rp 2.000.000,-
pembayaran secara kredit.
20 Juli Perusahaan membayar hutang sebesar Rp 500.000,-
Kedua
transaksi di atas dicatat dalam akun yang terkait sebagai berikut:
“Perlengkapan
Kantor”
05 Juli Rp
2.000.000,-
“Hutang Dagang”
20 Juli Rp 500.000,- 05 Juli Rp
2.000.000,
“Kas”
20
Juli Rp
500.000,-
Coba
perhatikan catatan dalam akun di atas, selanjutnya pahami:
1. Mengapa
tanggal 05 Juli, akun “Peralatan Kantor” di debet dan akun “Hutang Dagang” di
kredit masing-masing dengan Rp 2.000.000,-.
2. Mengapa
tanggal 20 Juli, akun”Hutang Dagang” di debet dan akun “Kas” di kredit,
masing-masing dengan jumlah Rp 500.000,-.
Seperti
telah disinggung di muka bahwa transaksi-transaksi terjadinya pendapatan dan
beban tidak dicatat langsung pada akun modal, tetapi untuk sementara dicatat
pada akun “Pendapatan” dan akun “Beban” yang bersangkutan.Terjadinya pendapatan
mengakibatkan penambahan pada modal, tetapi tidak dicatat pada akun “Modal” di
sisi kredit, melainkan dicatat pada akun”Pendapatan” juga di sisi kredit.
Sementara pengurangan terhadap pendapatan, tentu dicatat di sisi debet.
10 Juli Salon “GINA” menerima uang tunai dari para pelanggan sebesar Rp
600.000,- sebagai pembayaran jasa yang diberikan kepada mereka.
Transaksi
di atas dicatat dalam buku besar Salon “GINA” pada akun :
“Kas”
10 Juli Rp 600.000,-
“Pendapatan Jasa”
10
Juli Rp
600.000,-
Transaksi
terjadinya beban mengakibatkan pengurangan terhadap modal, tetapi tidak dicatat
pada akun “Modal” di sisi debet. Transaksi terjadinya beban, untuk sementara
dicatat pasa akun “Beban” di sisi debet. Sebaliknya jika terjadi pengurangan
terhadap beban, tentu harus dicatat di sisi kredit.
Coba
amati catatan dalam buku besar Salon “GINA” di bawah ini.
“Beban Gaji”
02 April Rp 1.500.000,-
“Kas”
02
April Rp 1.500.000,-
IKHTISAR :
a)
Akun-akun
harta di debet, jika terjadi pertambahan nilai dan di kredit jika terjadi
pengurangan nilai.
b)
Akun-akun
hutang dan modal, di debet jika terjadi pengurangan nilai dan di kredit jika
terjadi penambahan nilai.
c)
Akun-akun
pendapatan, di debet jika terjadi pengurangan dan di kredit jika terjadi penambahan.
d)
Akun-akun
beban, di debet jika terjadi penambahan beban dan di kredit jiks terjadi
pengurangan terhadap jumlah beban.
1.
Memberi Kode
Akun
a)
Kode Akun
Semakin luas kegiatan usaha suatu
perusahaan, semakin banyak akun yang harus digunakan dalam buku besar, sehingga
dalam penyusunan kode akun dalam buku besar semuanya bertujuan untuk memudahkan
proses pencatatan pemeriksaan dan pencarian suatu akun jika diperlukan. Kode
akun dalam buku besar erat sekali hubungannya dengan pengelompokkan akun dalam
neraca, sehingga susunan akun dalam buku besar harus disesuaikan dengan susunan
akun dalam neraca.
Salah satu contoh metode pemberian
kode akun adalah “kode kelompok” (group code). Menurut metode ini, setiap akun
diberi nomor kode yang terdiri atas empat atau lima angka, tergantung banyak
akun yang digunakan dalam buku besar. Angka pertama dari nomor kode akun
menunjukkan kelompok akun, angka kedua dan ketiga menunjukkan golongan dan
subgolongan akun, angka keempat menunjukkan nama akun yang bersangkutan. Dengan
demikian lima kelompok akun seperti telah dijelaskan di muka, diberi nomor kode
kelompok sebagai berikut :
Nomor 1 untuk kelompok akun harta
Nomor 2 untuk kelompok akun hutang
Nomor 3 untuk kelompok akun modal
Nomor 4 untuk kelompok akun
pendapatan
Nomor 5 untuk kelompok akun beban
Sesuai dengan susunan akun dalam
neraca, kelompok akun harta, hutang dan modal dapat diberi nomer kode sebagai
berikut :
1.
Kelompok
Harta
Kelompok harta dapat digolongkan
menjadi dua golongan yaitu “Harta Lancar” dan “Harta Tidak Lancar”. Harta
lancar adalah harta yang dalam jangka pendek (tidak lebih dari 1 tahun) akan
atau dapat menjadi uang tunai. Harta lancar bias terdiri atas jenis
(subgolongan) kas, surat berharga, piutang, dsb.
Harta tidak lancar adalah harta yang
memiliki untuk digunakan atau dimanfaatkan dalam jangka waktu lebih dari satu
tahun.Termasuk ke dalam golongan harta tidak lancar adalah jenis (subgolongan)
investasi jangka panjang, aktiva tetap berwujud, dan aktiva tetap tidak berwujud.
Berdasarkan penggolongan di atas,
akun-akun kelompok harta dapat diberi nomer kode sebagai berikut :
1… Nomor
kelompok harta
11… Nomor
golongan harta lancar
111. Nomor
sub golongan kas
1111 Kas Umum (Kas)
1112 Kas Kecil
1113 Selisih Kas
112. Nomor subgolongan
surat berharga
1121 Saham-saham
1122 Obligasi
113. Nomor
subgolongan piutang
1111 Piutang
Wesel
1112 Piutang Dagang
Dst…
12… Nomor
golongan harta tidak lancar
121. Nomor
sub golongan investasi jangka panjang
1211 Investasi-Saham
122. Nomor
subgolongan aktiva tetap berwujud
1221 Tanah
1222 Gedung
1223 Akumulasi Penyusutan Gedung
1224 Mesin-mesin
1225 Akumulasi Penyusutan Mesin-mesin
Dst…
123. Nomor
subgolongan aktiva tetap tidak berwujud
1231 Goodwill
1232 Hak Paten
1233 Merk Dagang
Dst…
124. Nomor
subgolongan beban yang ditangguhkan
1241 Beban
Penelitian
1242 Beban Pemasaran
124. Nomor
subgolongan harta lain-lain
1251 Gedung dalam Proses Penyesuaian
2.
Kalompok
Hutang
Seperti halnya kelompok harta,
kelompok hutang digolongkan menjadi “Hutang Lancar” (jangka pendek) dan “Hutang
Jangka Panjang”.Hutang lancar adalah hutang yang jatuh tempo dalam jangka waktu
tidak lebih dari satu tahun. Termasuk ke dalam golongan hutang lancar antara
lain hutang wesel jangka pendek, hutang dagang, hutang bank jangka pendek,
hutang gaji, hutang pajak. Hutang jangka panjang adalah hutang yang jatuh tempo
pembayarannya dalam jangka waktu lebih dari satu tahun sejak tanggal neraca.
Termasuk ke dalam hutang jangka panjang antara lain hutang hipotik dan hutang
obligasi.
Dalam hal akun kelompok hutang tidak
dibagi menjadi sub-subgolongan, akun-akun hutang dalam buku besar dapat diberi
nomor kode sebagai berikut :
2… Nomor
kelompok hutang
21… Nomor
golongan hutang lancar
2101 Hutang Wesel
2102 Hutang Dagang
2103 Hutang Gaji
2104 Hutang Pajak
Dsb…
22… Nomor kode
golongan hutang jangka panjang
2201 Hutang Wesel Jangka Panjang
2202 Hutang Hipotik
2203 Hutang Obligasi
Dst…
3.
Kelompok
Modal
Akun-akun kelompok modal dalam buku
besar perusahaan perseorangan dapat diberi nomor kode sebagai berikut :
3… Nomor
kode kelompok modal
3001 Modal Pemilik
3002 Prive Pemilik
Akun-akun
laba rugi atau akun nominal biasanya dikelompokkan sebagai berikut : kelompok
pendapatan digolongkan menjadi pendapatan usaha dan pendapatan di luar usaha.
Pendapatan usaha adalah pendapatan yang diperoleh dar usaha pokok atau yang
berhubungan langsung dengan objek usaha pokok.Pendapatan di luar usaha adalah
pendapatan yang diperoleh dari kegiatan usaha yang tidak berhubungan langsung
dengan objek usaha pokok.Demikian pula kelompok beban, digolongkan menjadi
beban usaha dan beban di luar usaha.Akun-akun pendapatan dan beban di luar
usaha biasanya diberi nomor kode kelompok enam. Dengan demikian akun-akun laba
rugi dapat diberi nomor kode sebagai berikut :
a) Kelompok
pendapatan usaha
4… Nomor
kode kelompok pendapatan usaha
4001 Pendapatan Jasa atau Penjualan
b) Kelompok
beban usaha
5… Nomor
kode kelompok beban usaha
51… Nomor kode
golongan harga pokok penjualan
5101 Pembelian (untuk Perusahaan Dagang)
5102 Biaya Angkutan Pembelian
5103 Retur Pembelian dan Pengurangan Harga
5104 Potongan Harga
52… Nomor kode
golongan beban penjualan
5201 Beban Gaji Pegawai Bagian Penjualan
5202 Beban Iklan
5203 Beban Asuransi Bagian Penjualan
5204 Beban Angkutan Penjualan
5205 Beban Perlengkapan Toko
Dst…
53… Nomor kode
golongan beban administrasi umum
5301 Beban Gaji Pegawai Kantor
5302 Beban Perlengkapan Kantor
5303 Beban Listrik, Air dan Telepon
5304 Beban Penyusutan Peralatan Kantor
5305 Beban Penyusutan Gedung Kantor
Dst…
c) Kelompok
pendapatan dan beban di luar usaha
6… Nomor
kode kelompok pendapatan dan beban di luar usaha
61… Nomor kode
golongan pendapatan di luar usaha
6101 Pendapatan Bunga (untuk Perusahaan yang
bukan Bank)
6102 Pendapatan Sewa (dalam Perusahaan Dagang)
6103 Laba Penjualan Surat Berharga (sebagai
Investasi Jangka Pendek)
6104 Laba Penjualan Aktiva Tetap
62… Nomor kode
golongan beban di luar usaha
6201 Beban Bunga
6202 Rugi Penjualan Surat Berharga
6103 Rugi Penjualan Aktiva Tetap
Dst…
b)
Bentuk-bentuk
akun
Bentuk akun yang paling sederhana
adalah akun bentuk T. Pembahasan bentuk secara mendetail akan diulas pada modul
buku besar. Akun bentuk T mempunyai tiga bagian yaitu :
a.
Nama Akun,
yang menjelaskan tentang jenis harta, kewajiban ekuitas, pendapatan, dan beban.
b. Tempat untuk
mencatat penambahan dan tanggal terjadinya penambahan.
c.
Tempat untuk
mencatat pengurangan dan tanggal terjadinya pengurangan.
Karena adanya kemiripan dengan huruf
T, maka akun ini disebut bentuk T, sebagai berikut :
“Nama Akun”
Sebelah Kiri (Debet) Sebelah
Kanan (Kredit)
c)
Tata cara
mendebet dan mengkradit akun
Pencatatan double entry mencatat
dual effect dari suatu transaksi ke akun, setiap transaksi setidak-tidaknya
mempengaruhi dua akun masing-masing di sisi debet dan di sisi kredit dalam
jumlah yang seimbang/sama. Jadi setiap transaksi dicatat dalam jumlah yang sama
baik sisi debet maupun kredit, sehingga jumlah semua sisi debet dari semua akun
harus sama dengan jumlah emua sisi kredit.
Tata Cara
Mendebet dan Mengkredit Suatu AKUN adalah sebagai berikut :
a.
Akun Harta :
Harta bertambah, akun yang bersangkutan di debet. Sedangkan apabila suatu
transaksi mengakibatkan pos tersebut berkurang, maka harus dicatat di akun
sebelah kredit.
b. Kewajiban
dan Ekuitas : Kewajiban dan ekuitas bertambah dicatat di kredit. Sedangkan
apabila berkurang, maka harus dicatat di akun sebelah debet dari akun yang
bersangkutan.
c.
Akun
Pendapatan : Pendapatan menambah ekuitas dicatat di kredit, maka penambahan
pendapatan dicatat di kredit juga.
d. Akun Beban :
Beban-beban mengurangi ekuitas, pengurangan ekuitas dicatat di debet, maka
penambahan beban dicatat di debet juga.
e.
Akun
Pengambilan Pribadi : Pengambilan pribadi ini terjadi pada perusahaan
perseorangan, dimana pemilik perusahaan mengambil harta (barang atau uang)
untuk keprluan pribadinya. Pengambilan pemilik mengurangi ekuitas, maka harus
dicatat di debet dalam akun pengambilan pribadi.
Rangkuman :
Kelompok Akun
|
Perubahan
|
|
Bertambah
|
Berkurang
|
|
HARTA
|
Debet
|
Kredit
|
HUTANG
|
Kredit
|
Debet
|
MODAL
|
Kredit
|
Debet
|
PENDAPATAN
|
Kredit
|
Debet
|
BEBAN
|
Debet
|
Kredit
|
Dari rangkuman di atas, dapat
disimpulkan bahwa dalam keadaan normal akun-akun buku besar akan menunjukkan
saldo normal sebagai berikut :
·
Akun-akun
kelompok harta dan beban, saldo normalnya di debet.
·
Akun-akun
kelompok hutang, modal, dan pendapatan, saldo normalnya di kredit.
E.
PENYIMPANAN BUKTI TRANSAKSI KEUANGAN
Sebagaimana
dijelaskan dimuka setelah bukti transaksi keuangan diberikode akun dan telah
diidentifikasi / ditentukan jumlah debetdan kredit sesuai denganakun
/perkiraannya maka bukti transaksi tersebut harus disimpan.
Peralatan yang diperlukan untuk
menyimpan bukti transaksi keuangan biasanya berupa map yang disebut ordner.
Ordner yang dibutuhkan paling tidak sejumlah lima buah yang meliputi kelompok :
1.
Bukti
penerimaan kas
2.
Bukti
pengeluaran kas
3.
Bukti
pembelian
4.
Bukti
penjualan
5.
Bukti
lain-lain
Bukti tansaksi disimpan dalam ordner
sesuai dengan kelompoknya dan diurutkan berdasarkan tanggal. Untuk kecermatan,
bukti-bukti tansaksi keuangan disimpan dalam ordner sesuai dengan kelompoknya
dan diurutkan berdasarkan tanggal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar